Tekanan jual Bitcoin menurun, pasar mulai stabil. Apakah ini sinyal awal tren naik kembali?
Bitcoin Stabil Setelah Aksi Ambil Untung Mereda
Bitcoin Stabil mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah tekanan jual yang intens selama beberapa pekan terakhir. Menurut data terbaru dari Glassnode, pasar kripto kini memasuki fase konsolidasi setelah sebelumnya diguncang aksi ambil untung besar-besaran. Pemulihan Bitcoin menjadi perhatian utama investor, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Lonjakan harga Bitcoin yang sempat menyentuh rekor USD 123.000 pada Juli 2025 menciptakan celah suplai yang tipis di antara kisaran USD 110.000 hingga USD 117.000. Celah ini disebut sebagai air gap, area yang minim aktivitas historis dan cenderung rentan terhadap volatilitas harga. Meski begitu, permintaan dari investor berisiko tinggi tampaknya mampu menahan tekanan jual lebih lanjut.
Bitcoin Stabil: Aktivitas Ambil Untung Menurun Tajam
Glassnode melaporkan bahwa volume keuntungan yang direalisasikan mengalami penurunan drastis. Jika pada Desember 2024 tercatat mencapai USD 2 miliar, kini hanya tersisa sekitar USD 1 miliar. Tingkat pengambilan keuntungan oleh investor jangka pendek juga turun ke angka 45%, lebih rendah dari ambang netral historis sebesar 50%.
Penurunan ini menandakan pasar tengah berada dalam kondisi yang lebih seimbang. Jika harga berhasil menembus level USD 116.000—yang menjadi rata-rata biaya beli investor bulan lalu—maka pemulihan Bitcoin bisa memasuki fase yang lebih solid.
Risiko Koreksi Masih Mengintai
Meskipun tren stabilisasi terlihat, koreksi harga masih mungkin terjadi. Glassnode mencatat bahwa pasokan keuntungan bagi investor jangka pendek turun dari 100% menjadi 70% dalam koreksi terakhir. Jika permintaan tidak segera menguat, harga Bitcoin bisa turun ke kisaran USD 106.000, yang menjadi rata-rata harga beli kelompok investor jangka pendek.
Namun, menurut Daniel Liu, CEO Republic Technologies, penurunan ke level USD 105.000–107.000 masih tergolong koreksi sehat. Hal itu dianggap bagian dari pergerakan naik jangka panjang Bitcoin yang lebih luas.
Faktor Eksternal Masih Jadi Ancaman
Faktor global juga turut memengaruhi dinamika pasar kripto. Revisi ke bawah terhadap data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk Mei dan Juni, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed, menjadi tekanan tersendiri.
Indikator skew opsi Bitcoin 30 hari kini berada di zona negatif. Artinya, opsi jual (put) menjadi lebih mahal dari opsi beli (call), menandakan investor semakin bersikap defensif.
Meski demikian, Liu menekankan pentingnya melihat gambaran besar. “Di tengah ketidakpastian jangka pendek, tren jangka panjang Bitcoin tetap positif,” ujarnya. Sejak awal tahun, imbal hasil Bitcoin tercatat hampir tiga kali lipat lebih besar dari indeks S&P 500.
Baca juga: Dunia Pendidikan Bangun Kehidupan Bangsa