Perbedaan Generasi dalam Gunakan ChatGPT
CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkap perbedaan mencolok antara Gen Z dan Milenial dalam menggunakan ChatGPT.
Gen Z, yang lahir setelah 1997, menjadikan ChatGPT sebagai penasihat pribadi. Mereka memanfaatkannya dalam mengambil keputusan besar, termasuk soal hubungan, karir, hingga masa depan.
Sementara itu, Milenial (kelahiran 1981–1996) memakai ChatGPT sebagai pengganti Google. Mereka mengandalkannya untuk pencarian informasi cepat dan praktis.
ChatGPT Jadi ‘Sistem Operasi’ Digital Gen Z
Menurut Altman, banyak Gen Z yang menyusun sistem kerja sendiri dengan ChatGPT.
Mereka menghubungkan AI ini dengan dokumen pribadi dan membuat prompt kompleks yang bisa digunakan kapan saja.
Bagi Gen Z, ChatGPT bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari rutinitas harian digital mereka.
Paling Aktif Gunakan ChatGPT
Data internal OpenAI Februari 2024 menunjukkan pengguna ChatGPT paling aktif adalah usia 18–24 tahun.
Kelompok ini rutin menggunakan AI untuk tugas sekolah, jadwal belajar, hingga inspirasi hidup.
Bahkan, survei Pew Research mencatat 26% remaja AS usia 13–17 tahun sudah memanfaatkan ChatGPT untuk kegiatan belajar.
Kekhawatiran terhadap Ketergantungan AI
Penggunaan intensif AI oleh anak muda memicu kekhawatiran.
Anggota parlemen California mengusulkan aturan agar AI memperjelas bahwa pengguna tak sedang berbicara dengan manusia.
Peneliti dari Stanford dan Common Sense Media menyarankan pembatasan penggunaan AI sebagai teman digital bagi anak-anak.
Altman Tetap Optimistis soal Masa Depan AI
Meski ada kekhawatiran, Altman tetap yakin AI akan berevolusi jadi lebih bermanfaat bagi pengguna.
Ia menekankan pentingnya membangun model yang mampu belajar dari penggunanya seiring waktu.